Immovesting – Langkah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat dewan gubernur Agustus 2025 menjadi 5% langsung disambut positif oleh pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat hingga lebih dari 1% dalam perdagangan sehari setelah kebijakan diumumkan. Penguatan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar bahwa sektor-sektor tertentu akan mendapat keuntungan nyata dari iklim bunga yang lebih rendah.
Pemangkasan suku bunga dianggap sebagai stimulus moneter yang memberikan ruang lebih besar bagi konsumsi masyarakat dan investasi swasta. Investor melihatnya sebagai sinyal bahwa pemerintah ingin menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global. Alhasil, arus modal asing masuk kembali ke pasar saham dan memperkuat posisi IHSG di level mendekati 8.000.
Sektor properti menjadi salah satu yang paling cepat merespons kebijakan ini. Penurunan suku bunga membuat cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) lebih terjangkau, sehingga mendorong permintaan hunian baru. Dalam jangka menengah, hal ini berpotensi meningkatkan kinerja emiten properti, baik pengembang besar maupun perusahaan konstruksi yang terkait dengan sektor tersebut.
Sektor konsumer non-siklikal juga memperoleh perhatian lebih dari analis. Produk kebutuhan sehari-hari yang stabil permintaannya akan semakin kuat ketika daya beli masyarakat membaik berkat biaya pinjaman yang lebih rendah. Investor menganggap sektor ini sebagai pilihan aman dalam menghadapi ketidakpastian, karena konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian Indonesia.
Baca Juga : Top 5 Aplikasi Crypto Exchange Terpopuler di Indonesia Tahun 2025
Analis pasar modal menyebutkan beberapa sektor saham yang layak dicermati pasca-penurunan suku bunga acuan, di antaranya:
Keempat sektor tersebut diperkirakan menjadi motor penggerak IHSG dalam beberapa waktu ke depan. Meski demikian, pelaku pasar tetap diingatkan untuk memperhatikan faktor eksternal seperti stabilitas rupiah dan arah kebijakan bank sentral global.
Kebijakan pelonggaran moneter ini dipandang sebagai momentum bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, agar dampaknya berkelanjutan, ada beberapa syarat yang harus dijaga. Pertama, kestabilan nilai tukar rupiah sangat penting karena gejolak mata uang bisa mengikis manfaat suku bunga rendah. Kedua, inflasi harus tetap terkendali agar konsumsi masyarakat tidak terbebani.
Selain faktor domestik, kebijakan suku bunga The Fed di Amerika Serikat juga akan menjadi variabel penentu. Jika The Fed tetap ketat, arus modal asing ke negara berkembang bisa kembali berbalik arah. Oleh sebab itu, investor disarankan untuk tidak hanya terpaku pada euforia jangka pendek, tetapi juga memperhatikan kondisi makroekonomi global yang bisa memengaruhi kinerja pasar saham Indonesia.
Simak Juga : Cara Pointing Domain ke Hosting Baru: Tips Anti Downtime yang Wajib Dicoba
Pemangkasan suku bunga acuan memang memberi sentimen positif yang kuat dan mendorong beberapa sektor unggulan menguat. Namun, keberhasilan investor dalam memanfaatkan momentum ini sangat bergantung pada strategi jangka panjang yang disiplin. Tanpa analisis mendalam, euforia pasar bisa berubah menjadi risiko ketika kondisi global berubah.
Dengan memahami sektor yang paling diuntungkan, menjaga portofolio tetap seimbang, dan waspada terhadap faktor eksternal, investor dapat menjadikan kebijakan ini sebagai pijakan untuk pertumbuhan aset yang lebih berkelanjutan. Penurunan suku bunga hanyalah awal; strategi cerdas akan menentukan hasil akhirnya.