
Immovesting – Pertumbuhan properti pendukung pariwisata diperkirakan menguat sepanjang 2026, seiring pemulihan perjalanan global dan ekspansi destinasi unggulan di berbagai daerah.
Pada 2026, banyak analis memproyeksikan pertumbuhan properti pendukung pariwisata bergerak lebih agresif dibanding beberapa tahun sebelumnya. Pemulihan jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, mendorong permintaan akomodasi dan fasilitas penunjang. Pemerintah juga terus memperbaiki infrastruktur, sehingga akses ke destinasi baru menjadi lebih mudah.
Segmen hotel, homestay, vila, dan serviced apartment menjadi lokomotif utama dalam siklus baru ini. Selain itu, kawasan komersial di sekitar objek wisata, seperti area kuliner dan ritel, ikut menikmati kenaikan nilai. Investor mulai mengalihkan portofolio dari aset pasif ke properti produktif yang berorientasi pada arus kas stabil.
Di beberapa destinasi prioritas, pelaku usaha lokal berkolaborasi dengan pengembang nasional untuk membangun kawasan terpadu. Model ini memadukan akomodasi, hiburan, pusat oleh-oleh, dan ruang terbuka publik dalam satu lingkungan terkurasi. Langkah tersebut memperkuat daya tarik sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Sejumlah faktor kunci menjelaskan mengapa pertumbuhan properti pendukung pariwisata berpotensi menguat pada 2026. Pertama, tren bekerja dari mana saja membuat banyak profesional memilih tinggal lebih lama di destinasi wisata. Mereka membutuhkan akomodasi nyaman dengan koneksi internet stabil dan fasilitas penunjang kerja jarak jauh.
Kedua, maskapai dan operator transportasi darat terus membuka rute baru. Konektivitas yang membaik menurunkan biaya perjalanan dan menarik segmen wisatawan menengah yang sensitif harga. Karena itu, okupansi penginapan berangsur pulih bahkan melewati tingkat sebelum pandemi di beberapa lokasi populer.
Ketiga, promosi pariwisata berbasis digital dan media sosial memicu munculnya “hidden gem” baru. Desa wisata, kawasan konservasi, dan pantai terpencil kini mendapat sorotan luas. Di titik inilah pengembangan properti akomodasi skala kecil hingga menengah berperan, terutama yang dikelola komunitas lokal.
Transformasi digital membentuk ulang lanskap pertumbuhan properti pendukung pariwisata melalui model bisnis yang lebih fleksibel. Platform pemesanan daring memudahkan pemilik rumah, apartemen, dan vila masuk ke pasar akomodasi harian atau mingguan. Pola ini menambah pasokan kamar tanpa harus mengandalkan jaringan hotel besar.
Selain itu, konsep co-living dan co-working di area wisata mulai berkembang. Ruang tinggal dan ruang kerja digabung dalam satu kompleks dengan fasilitas bersama seperti dapur komunal dan ruang kreatif. Segmen ini menarik pekerja lepas, kreator konten, hingga pelaku startup yang ingin berpindah-pindah kota tanpa kehilangan produktivitas.
Baca Juga: Laporan data tren pertumbuhan sektor pariwisata global terbaru
Pengembang juga melirik skema kepemilikan campuran, seperti condotel dan residence berlisensi hotel. Skema ini menawarkan kombinasi potensi sewa dan kepemilikan pribadi bagi investor individu. Namun, transparansi skema bagi hasil dan pengelolaan profesional menjadi kunci kepercayaan pembeli.
Peta peluang pertumbuhan properti pendukung pariwisata tidak lagi terpusat pada destinasi lama yang telah jenuh. Banyak perhatian bergeser ke kawasan yang baru naik daun, terutama yang punya keunggulan lanskap alam, budaya kuat, dan akses yang mulai membaik. Harga lahan yang relatif lebih rendah membuka ruang margin yang menarik.
Di desa wisata, pengembangan homestay berstandar baik menjadi prioritas. Wisatawan kini menuntut kebersihan, keamanan, dan pengalaman autentik sekaligus. Properti skala kecil dengan sentuhan lokal yang kuat sering kali memiliki tingkat hunian tinggi saat dikelola secara profesional.
Di sisi lain, kawasan pegunungan dan danau menawarkan peluang resort dan eco-lodge berkonsep berkelanjutan. Fasilitas yang ramah lingkungan, penggunaan energi terbarukan, dan pelibatan masyarakat sekitar menjadi nilai jual utama. Investor yang mengadopsi prinsip hijau berpotensi menikmati loyalitas pasar yang makin peduli isu iklim.
Meski prospek 2026 tampak cerah, pelaku usaha perlu mengelola risiko seiring pesatnya pertumbuhan properti pendukung pariwisata di berbagai daerah. Regulasi tata ruang, perizinan bangunan, hingga aturan zonasi pariwisata harus dipahami sejak tahap perencanaan. Keterlambatan atau pelanggaran izin dapat berujung pada sanksi dan kerugian finansial.
Pemerintah daerah mulai memperketat pengaturan sewa jangka pendek di kawasan padat penduduk. Tujuannya menjaga keseimbangan antara kepentingan warga lokal dan industri wisata. Karena itu, pemilik dan pengelola akomodasi wajib mengikuti ketentuan pajak, standar keselamatan, dan kapasitas hunian maksimum.
Di samping itu, risiko perubahan pola perjalanan akibat faktor ekonomi global atau kesehatan publik tetap perlu diantisipasi. Diversifikasi segmen tamu, misalnya dengan menyasar wisatawan bisnis, MICE, dan komunitas hobi, dapat mengurangi ketergantungan pada musim liburan semata.
Pelaku industri yang ingin mengambil peran dalam pertumbuhan properti pendukung pariwisata pada 2026 perlu menyiapkan strategi terukur. Riset pasar mendalam pada level lokasi mikro menjadi keharusan, bukan hanya mengikuti tren destinasi populer. Data okupansi, pola kunjungan, dan kemampuan belanja wisatawan harus menjadi dasar perhitungan konservatif.
Selain itu, penguatan kualitas layanan menjadi pembeda utama di tengah persaingan ketat. Staf yang terlatih, sistem reservasi yang rapi, hingga komunikasi responsif di kanal digital dapat meningkatkan ulasan positif. Reputasi baik pada platform pemesanan sering kali lebih efektif daripada iklan berbiaya besar.
Sinergi antara pengembang, pemerintah, dan masyarakat lokal akan menentukan keberlanjutan pertumbuhan properti pendukung pariwisata. Jika dirancang dengan hati-hati, ekspansi 2026 bukan hanya menciptakan keuntungan komersial, tetapi juga lapangan kerja, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan. Dengan fondasi tersebut, pertumbuhan properti pendukung pariwisata berpeluang menjadi motor penting pembangunan ekonomi daerah dalam jangka panjang.