
Immovesting – Investor individu semakin menyoroti ROI investasi real estat sebagai tolok ukur utama untuk menilai kinerja properti sewa dan portofolio mereka.
ROI investasi real estat menggambarkan seberapa besar keuntungan bersih yang Anda peroleh dibandingkan dana yang Anda tanamkan pada sebuah properti. Angka ini berbentuk persentase, sehingga memudahkan perbandingan antara satu properti dengan properti lain, bahkan dengan instrumen investasi berbeda seperti deposito, obligasi, atau saham.
Secara umum, rumus dasar ROI adalah laba bersih dibagi total modal yang digunakan, kemudian dikali 100 persen. Dalam konteks properti, laba bersih berarti pendapatan sewa dan kenaikan nilai properti dikurangi seluruh biaya, bukan hanya cicilan kredit. Karena itu, akurasi perhitungan sangat bergantung pada kelengkapan Anda memasukkan seluruh komponen biaya.
Meski tampak sederhana, banyak investor pemula hanya menghitung selisih antara uang sewa dan cicilan kredit. Pendekatan ini mengabaikan biaya perawatan rutin, pajak, asuransi, dan kekosongan sewa. Akibatnya, angka ROI tampak lebih tinggi dari kondisi riil, sehingga menimbulkan keputusan investasi yang kurang objektif.
Untuk mendapatkan gambaran ROI investasi real estat yang lebih akurat, Anda harus memetakan semua komponen pendapatan dan biaya. Pertama, catat pendapatan kotor tahunan dari sewa atau pembayaran berkala lain yang terikat properti. Jika Anda menambah nilai properti melalui renovasi dan berhasil menaikkan harga jual, selisih keuntungan juga masuk sebagai pendapatan.
Kedua, identifikasi seluruh biaya tahunan. Biaya ini mencakup pajak bumi dan bangunan, asuransi, biaya perawatan dan perbaikan, biaya manajemen properti, serta biaya pemasaran untuk mencari penyewa baru. Sementara itu, jangan lupakan periode kekosongan sewa, karena masa kosong berarti pendapatan nol meski biaya tetap berjalan.
Di sisi lain, struktur pembiayaan juga memengaruhi cara membaca ROI. Cicilan kredit memang menjadi arus kas keluar, tetapi ROI sebaiknya melihat total modal yang benar-benar Anda keluarkan, seperti uang muka, biaya notaris, biaya balik nama, dan pungutan lain saat transaksi pembelian. Pendekatan ini membuat perbandingan antara pembelian tunai dan menggunakan leverage menjadi lebih seimbang.
Secara praktis, langkah pertama adalah menghitung pendapatan kotor tahunan dari properti. Kurangi angka ini dengan seluruh biaya operasional tahunan untuk mendapatkan pendapatan bersih tahunan. Pendapatan bersih inilah yang akan dibandingkan dengan total modal yang Anda keluarkan pada awal investasi.
Rumus sederhananya adalah: ROI = (Pendapatan Bersih Tahunan ÷ Total Modal Awal) × 100 persen. Dengan rumus ini, ROI investasi real estat mudah Anda gunakan sebagai dasar evaluasi. Misalnya, jika pendapatan bersih tahunan sebesar Rp30 juta dan total modal awal Rp300 juta, maka ROI Anda berada di kisaran 10 persen per tahun.
Namun, untuk investasi jangka panjang, Anda juga perlu memasukkan potensi kenaikan nilai properti. Setelah itu, ketika properti dijual, keuntungan selisih harga jual dikurangi sisa pokok kredit dan biaya transaksi penjualan dapat dihitung sebagai tambahan imbal hasil. Pendekatan menyeluruh ini membantu Anda melihat performa investasi tidak hanya dari arus kas sewa, tetapi juga capital gain.
Baca Juga: Penjelasan lengkap konsep return on investment dan cara menghitungnya
Sering kali, istilah ROI investasi real estat bercampur dengan cap rate dan cash-on-cash return. Padahal, ketiganya memiliki fungsi dan sudut pandang berbeda. Cap rate biasanya menghitung pendapatan bersih tahunan dibandingkan nilai pasar properti saat ini, tanpa memperhitungkan cara pembiayaan.
Sementara itu, cash-on-cash return berfokus pada perbandingan antara arus kas bersih tahunan dengan jumlah uang tunai yang Anda tanamkan sendiri. Metode ini populer di kalangan investor yang menggunakan pinjaman bank, karena menyoroti efisiensi penggunaan modal pribadi.
ROI menjadi payung besar yang dapat memasukkan unsur arus kas sewa, capital gain, dan keseluruhan biaya selama periode investasi. Karena itu, investor berpengalaman sering menggunakan ketiganya secara bersamaan untuk mendapat gambaran kinerja properti dari berbagai sudut, bukan hanya satu angka saja.
Banyak kesalahan perhitungan muncul karena investor terlalu optimistis memperkirakan pendapatan dan meremehkan biaya. Untuk menjaga keandalan angka ROI investasi real estat, gunakan data konservatif, misalnya memperhitungkan beberapa bulan kekosongan dalam setahun dan cadangan untuk perbaikan besar.
Selain itu, pastikan Anda membedakan biaya satu kali dan biaya berulang. Biaya renovasi awal yang cukup besar seharusnya masuk ke komponen modal awal, bukan biaya tahunan. Sementara itu, biaya perawatan berulang seperti servis AC atau cat ulang rutin masuk kategori biaya operasional tahunan.
Anda juga perlu meninjau ulang ROI secara berkala. Perubahan tarif pajak, kenaikan biaya perawatan, atau penyesuaian harga sewa akan mengubah angka imbal hasil. Karena itu, memiliki catatan keuangan rapi menjadi kunci untuk menjaga keakuratan perhitungan dan mengurangi risiko keputusan keliru.
Dalam praktiknya, ROI investasi real estat bukan hanya angka di atas kertas, tetapi alat bantu yang memicu tindakan strategis. Dengan membandingkan ROI beberapa properti, Anda bisa memutuskan mana yang layak dipertahankan, direnovasi untuk meningkatkan nilai sewa, atau bahkan dijual untuk memutar modal ke peluang lain.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah membandingkan ROI dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Angka ROI tinggi belum tentu cocok jika risiko kekosongan atau fluktuasi harga di wilayah tersebut sangat besar. Sebaliknya, properti dengan ROI moderat di kawasan stabil bisa menjadi pilihan lebih seimbang untuk jangka panjang.
Pada akhirnya, kedisiplinan menghitung dan mengevaluasi ROI investasi real estat secara rutin akan membantu Anda membangun portofolio yang sehat dan berkelanjutan. Dengan memahami komponen biaya secara detail dan menerapkan rumus yang tepat, Anda dapat meminimalkan bias, mengambil keputusan lebih rasional, dan mengarahkan investasi Anda menuju tujuan keuangan yang lebih terukur.